root@fandigunawan

May 21, 2017

Kenangan sepanjang Gunung Binaiya, Sawai dan Banda 29 April – 13 Mei 2017 (bag. 2)

Filed under: Pendakian, Tulisan — Tags: , , , , , — fandigunawan @ 6:52 am

Tulisan ini kelanjutan dari bagian 1.

Jumat, 5 Mei 2017

Setelah turun gunung pada hari Kamis, 4 Mei 2017 kamipun kembali menghubungi Pak Moge agar menjemput kami ke Piliana. Pak Moge berangkat dari Masohi pukul 05 dan sampai di Hatu (daerah dibawah Piliana) pukul 07 tetapi harus menunggu tambahan orang dikarenakan kondisi mobil yang kosong yang tidak memungkinkan untuk menghadapi jalur kurang bagus dan tanjakan menuju Piliana. Sekitar pukul 09, Pak Moge muncul dan kami bergegas bersiap untuk pulang tetapi kami tak lupa berpamitan dengan keluarga Bapak Raja atas bantuannya selama ini. Setelah pamitan, kami mampir ke obyek wisata baru (karena baru renovasi) yaitu “kali jodoh” dengan nama asli Ninipala. Kali jodoh ini merupakan sumber air alami yang berwarna biru dengan 2 pohon ditengahnya yang konon barangsiapa mandi disitu akan mudah mendapat jodoh. Perjalanan menuju kali jodoh tidak jauh dari Piliana dan lokasinya di pinggir jalan. Ada sekitar 50 meter jalan turun dari jalan aspal utama untuk sampai ke kali jodoh tersebut.

Mobil Pak Moge ketika sampai Piliana

Gelembung air yang dari mata air Ninipala “kali jodoh”

Warna air “kali jodoh”

Warna air

Untuk tiket masuk ketika kami ke kali jodoh adalah tidak ada, mungkin dimasa depan akan ada retribusi untuk masuk obyek wisata ini.

Kami sampai di Masohi pukul 12.30, kami langsung ke Balai TN Manusela guna memberi kabar sekaligus berpamitan karena Kang Maman akan langsung kembali ke Jakarta sedangkan saya sendiri masih galau mau kemana. Di balai saya dapat informasi dari Bapak Sugeng untuk sebaiknya ke Sawai saja karena tiket Pelni KM Nggapulu masih hari senin dini hari dan berangkat dari Pelabuhan Ambon. Sekitar pukul 15 saya naik “otto avanza” dari depan Pasar Masohi untuk ke arah Sawai, Seram Utara. Mobil otto (sebutan untuk mobil/angkot) ini setiap hari berangkat dari Sawai pukul 08 (supaya pas dengan jadwal menyeberang Amahai-Tulehu yang sore) dan kembali pukul 15 dari Masohi. Perjalanan menuju sawai memakan waktu sekitar 3,5 jam. Perjalanan awalnya melintasi dataran sekitar 1 jam sebelum menanjak kearah hutan belantara. Disini sebagian jalan merupakan kawasan hutan TN Manusela. Pemandangan yang sangat apik terpampang jelas sepanjang jalan ini. Sebelum “tanjakan SS” kami berhenti sejenak untuk istirahat sekitar 10 menit. Tanjakan SS ini sangat terkenal karena cukup curam. Meski jalan relatif bagus beraspal, beberapa titik rusak parah karena jalanan ambles. Supir otto kami rupanya cukup mahir menghajar jalanan rusak ini. Ketika kami sampai di Sawai, atas rekomendasi supir otto saya menginap di penginapan apung Oanain. Tarif disini semalam 330 ribu sudah termasuk makan 3 kali dimana ini lebih murah dibanding di Ora resort.

Masih kebagian matahari tenggelam meski tinggal ekstraknya :v

Orang bijak taat bayar pajak katanya :p

Salah satu penginapan apung

Bangunan utama resort Oanain

Pemandangan diberanda

Pemandangan kearah tebing

Malam itu saya bertanya ada apa saja sih di Sawai, kebetulan penjaga resort juga orang Jawa Timur. Dia memberitahu biasanya ada paket sewa speedboat untuk 3 lokasi yaitu tebing, Ora dan Air Belanda seharga 500 ribu. Dikarenakan kalau sendiri bayar 500 ribu cukup berat, akhirnya dapat tambahan pasukan dari rombongan lain sehingga lebih enteng untuk patungan. Perjalanan untuk menggunakan speedboat dijadwalkan esoknya pukul 08.30. Saya sempatkan untuk bertanya adakah lokasi nenda yang mungkin dituju dan akhirnya disampaikan agar nenda saja di Pulau Raja. Di pulau itu katanya ada sinyal dan terkadang ada penduduknya. Jadi diputuskan setelah ke tebing, Ora, Air Belanda nanti saya akan diantar ke Pulau Raja.

Sabtu, 6 Mei 2017

Selepas sarapan pagi sekitar pukul 08.30 kami bersiap menggunakan speed boat. Kunjungan akan berurut dari tebing, Ora, Air Belanda lalu Pulau Raja. Untuk masuk ke pantai Ora kami diharuskan bayar tiket masuk 25rb T_T. Yang menarik dari resort ini adalah harganya yang wah itupun sulit dibooking meski sudah jauh-jauh hari. Harga ruangan paling besar di resort apung adalah 3.5jt untuk informasi lebih jelas silakan cek : disini

Daftar harga

Biar gambar yang berbicara untuk perjalanan itu.

Tebing

Tempat istirahat dan foto di tebing

Gua di tebing

Resort Ora

Resort Ora

Mengenai Air Belanda saya juga ingin tahu kenapa dinamakan demikian, Air Belanda itu dulu tempat bertemunya air tawar dari sungai kemudian bertemu air laut. Diperbatasan kedua air itu air terasa lebih dingin. Mengenai nama Belanda adalah karena dulu disitu ada pekuburan Belanda yang beberapa sudah hilang karena kena abrasi.

Kuburan Belanda

Pantai di Air Belanda

Warung di Air Belanda

Pemandangan kearah Saleman

Selepas dari Air Belanda, kami menuju Pulau Raja. Tapi rupanya ini salah, saya diturunkan di Pulau Sawai, sedang Pulau Raja ada diseberangnya.

Pantai Pulau Sawai

Pesan vandalisme dikursi

Pasang tarp dulu

Tak lama setelah pasang tarp, kemudian adalah dua anak yang menggunakan perahu main ke Pulau Sawai ini. Saya tanya apakah mereka nggak sekolah, tapi mereka bilang libur :p. Akhirnya sebelum mereka pulang saya kasih jajan buat dibawa pulang, tak lupa dikasih pesan dibagi dua ya jangan sampai berantem. Tak lama mereka kembali lagi, mereka bilang sebaiknya pindah ke Pulau Raja saja. Saya kurang paham kenapa awalnya? tapi ya sudah ikut saja. Awalnya waktu pindah saya ikut sampan kecil mereka, tapi apa boleh buat baru jalan beberapa meter sampan tadi oleng dan saya nyemplung air -__-. Karena itu akhirnya mereka ambil lagi kapal yang lebih besar untuk jemput saya. Rupanya di Pulau Raja ini dihuni dan dikelola oleh keluarga Mukaddar sejak jaman baheula. Mereka disini sedang menyelesaikan penginapan apung. Disini saya dijamu makan kelapa muda, sepertinya saya makan sekitar 4-5 butir :D. Ibu-ibunya juga membuat ikan asap untuk dimakan. Sering ada tamu yang berkunjung juga minta dimasakkan masakan khas mereka yaitu ikan asar (asap) dan colo-colo. Rupanya alasan saya diminta pindah dari Pulau Sawai karena itu pulau umum yang siapapun bisa kesana, kalau ramean katanya sih nggak apa-apa. Sedangkan Pulau Raja ini dikelola oleh keluarga Mukaddar secara turun-temurun.

Keluarga Mukaddar

Pemandangan pagi dari Pulau Raja

Pemandangan pagi dari Pulau Raja

Keunggulan Pulau Raja adalah karena didua sisinya bisa dapat matahari terbit dan tenggelam (harus pindah sisi pulau) sementara di Ora atau Sawai matahari pagi terhalang dinding tebing. Selain itu karena keluarga Mukaddar mempunyai kebun kelapa yang sangat saya rekomendasikan untuk mencoba hasil kelapa mudanya :D.

Resort Oanain lagi

Minggu, 7 Mei 2017

Sekitar pukul 06.30 speed boat menjemput untuk ke Resort Oanain lagi dan pukul 0830 berangkat ke Masohi. Selamat tinggal Sawai semoga bisa berkunjung lagi utamanya bisa silaturahmi ke Keluarga Mukaddar lagi.

Informasi:

Biaya

  • Mobil otto Avanza 100rb, Sawai-Masohi jam 08 dan Masohi-Sawi jam 15
  • Menginap di Oanain Resort 330rb sudah termasuk makan 3 kali
  • Speedboat tebing, Ora, Air Belanda 500rb (silakan patungan)
  • Speedboat Pulau Raja-Oanain 200rb
  • Tiket masuk ke Ora 25rb

Kontak informasi:

  • Resort Oanain Munina Sawai Bapak Bahtiar 0812 5282 5887, 0812 3376 2778
  • Keluarga Mukaddar Pulau Raja : Abdurahman Mukaddar 0852 4300 9548, Talib 0813 4434 8456 silakan kontak mereka mungkin nanti ketika penginapan apung Pulau Raja sudah jadi. Kalaupun belum, camping di Pulau Raja juga asik 😀

 

May 18, 2017

Kenangan sepanjang Gunung Binaiya, Sawai dan Banda 29 April – 13 Mei 2017 (bag. 1)

Filed under: Pendakian, Tulisan — Tags: , , , , , , , — fandigunawan @ 12:51 am

Awalnya saya sama sekali tidak ada pikiran atau terbersit sedikitpun untuk menginjak salah satu puncak tertinggi dikawasan sekitar Maluku yaitu Gunung Binaiya. Namun rupanya, salah satu teman saya, Kang Maman membuat ajakan untuk ke Gunung Binaiya yang sudah dia wacanakan beberapa tahun terakhir. Proses ajakan dilakukan di grup WhatsApp dengan beberapa orang tertarik, namun diakhirnya hanya saya dan Kang Maman yang berangkat.

Hari itu adalah tanggal 28 April 2017 yang merupakan hari Jumat dimana keruwetan Jakarta mulai ketika jam bubar kantor. Saya masih sempat membereskan urusan kantor lalu kemudian melakukan cek akhir pada barang bawaan saya yang akan dibawa naik ke gunung. Sekitar pukul 18.00 saya naik kopaja P20 ke stasiun Gambir dan lalu lanjut dengan naik Bus Damri arah Bandara Soekarno Hatta. Saya tiba di Soekarno Hatta pukul 20.00. Saya menunggu Kang Maman yang sekiranya berangkat dari Depok menggunakan bus juga. Sekitar pukul 22.00 saya bertemu Kang Maman didepan terminal 1.

Sabtu, 29 April 2017

IMG_20170429_004803

Lion Air

Pesawat yang kami tumpangi adalah Lion Air Jakarta-Ambon penerbangan hari sabtu pukul 01.30 tanggal 29 April 2019 yang tiba di Bandara Pattimura, Ambon pada pukul 07.30. Ketika sampai di Bandara Pattimura saya merasakan hal yang berbeda ketika keluar bandara, panas!. Nampaknya Ambon ini lebih dekat ke matahari daripada Bekasi :p karena ketika saya cek termometer terbaca 33C untuk hitungan pagi relatif panas. Karena kami tidak terburu-buru menyeberang ke arah Masohi (Ibukota Kab. Maluku Tengah di Pulau Seram), kami sempatkan makan dulu di warung seberang bandara. Saya suka dengan bandara ini karena warung diluar bandara yang sangat dekat dengan bandara (bandingkan dengan Soekarno Hatta) dan lagi angkutan umum juga berseliweran didepan bandara kalau kita hendak ke Kota Ambon ataupun Passo. Setelah makan sebentar dan nonton bola (UEFA) lalu kami melanjutkan perjalanan menuju ke Passo guna beli beberapa hal yang kurang semisal gas (yang dilarang dalam penerbangan). Disini kami turun di pertigaan Passo yang ternyata terlalu dini turun, sehingga kami harus jalan sedikit ke Ambon City Center guna menuju Hypermart. Di Hypermart saya utamanya belanja gas hicook. Setelah belanja di Hypermart, kami lanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Tulehu. Di pelabuhan ini terdapat beberapa trayek kapal yang salah satunya menuju Masohi (Pelabuhan Amahai). Kapal cepat Cantika Ekspress yang memakan waktu 2 jam perjalanan untuk sekitar 80km jarak tarik lurus Tulehu-Amahai. Tiket ekonomi kapal cepat ini adalah sebesar 115rb dengan jadwal sehari 2 kali yaitu pukul 09 dan 16 di hari biasa dan 1 kali sehari yaitu pukul 10 di hari minggu.

IMG_20170429_090641

Ambon City Center, dimana ada Hypermart

IMG_20170429_140501

Kapal Cantika Express

Perjalanan laut lumayan lama menurut saya karena maklum saja sudah lama tidak naik kapal laut. Sesampai di Amahai (pukul 18) ada baiknya pegang erat barang bawaan Anda apabila barang Anda tidak ingin diangkat porter, karena para porter akan merangsek masuk untuk mengais rejeki.  Keluar dari pelabuhan ada angkutan umum untuk mencapai Kota Masohi yang rupanya tidak terlalu jauh juga dari pelabuhan. Kami minta diturunkan di Polres Masohi karena ini jadi patokan kami menuju Balai Taman Nasional, rupanya hari sabtu itu kantor tutup. Disinilah awal mulai kekacauan, kartu Indosat saya sinyalnya kurang bagus sedang kartu XL Kang Maman malah tidak ada sinyal sama sekali. Kontak utama kami adalah Bapak William yang bertugas di Taman Nasional Manusela di Masohi yang biasa membantu pendaki untuk urusan ijin pendakian (SIMAKSI). Namun karena sinyal sulit maka untungnya dengan informasi tambahan dari teman saya akhirnya saya coba hubungi Bang Ipul KOMPAS (PA di Masohi) dan kami langsung dijemput ke basecamp-nya. Disini kami bertemu rombongan yang baru saja turun dari Binaiya sejumlah 30 orang yang lintas selatan-utara dengan kondisi kaki banyak yang hancur kena air. Dikarenakan malam itu ada acara KOMPAS dan basecamp penuh, kami memutuskan untuk menginap di Penginapan Lulu yang tidak jauh dari basecamp.

Tidak lama kami taruh semua tas kamudian mencoba makan yang terdekat dan itu adalah ayam goreng Lamongan :v (jauh-jauh malah makan ayam goreng Lamongan). Kemudian malam itu kami di datangi rombongan Pak William yang menanyakan kabar dan rencana kami. Kami akhirnya berbincang dan kami tunggu satu hari salah satu pendaki tambahan yang tadinya berniat solo ke Binaiya yang digabungkan ke tim kami.

Pagi itu kami bangun untuk beli bensin (bahan bakar kompor MSR multi fuel), belanja sayur dan saya sendiri butuh kartu Telkomsel karena di Pulau Seram sinyal terbaik adalah Telkomsel. Kami sempatkan untuk mengunjungi obyek wisata Ina Marina yang nampaknya belum selesai dikerjakan.

IMG_20170430_075543

Ina Marina

IMG_20170430_083127

Pasar Masohi

Sekitar pukul 12.00 kami berangkat menuju Balai Taman Nasional dengan menaiki angkot. Disini kami menunggu pendaki yang bergabung dengan kami. Sekitar pukul 16.30 setelah urusan surat selesai dan barang terkumpul semua, kami naik “Avanza” carteran arah Piliana. Atas rekomendasi Pak William, kami mendapat supir Pak Moge yang biasa antar tamu ke Piliana. Perjalanan ke Piliana memakan waktu sekitar 4 jam, namun sore itu hujan jadi perjalanan sedikit lebih lambat. Untuk surat yang kami bawa ada 4 amplop, 1 untuk kantor di Tehoru, 1 untuk kantor di Saunulu, 1 untuk Bapak Raja Piliana (gelar kepala desa adat) dan 1 untuk pendaki. Dikarenakan kondisi sudah malam surat yang di Tehoru disampaikan di Saunulu. Pastikan ikuti urutan ini. Sekitar pukul 18.30 kami sempatkan makan dulu di Tehoru, saya sendiri mencoba makan ikan yang rupanya rasanya jauh lebih enak daripada di Jakarta. Kami akhirnya sampai di desa Piliana pukul 20.30. Disini kami diantar ke rumah Bapak Raja, setelah perkenalan sebentar kami dipersilahkan istirahat di rumah Bapak Raja juga.

IMG_20170430_162906

Berfoto bersama Pak William (kaos merah) yang dengan baik membantu segala kebutuhan dan urusan administrasi kami

Senin, 1 Mei 2017

Untuk melakukan pendakian ke Gunung Binaiya, kami harus ikuti aturan adat yang ada di Piliana yaitu untuk melakukan upacara adat di rumah adat yang dipimpin oleh bapak adat. Upacara adatnya adalah makan sirih pinang, ini pertama kali adalam hidup saya mencoba sirih pinang khas orang timur. Setelah mengunyah sirih yang rasanya khas kemudian kesalahan fatal saya adalah mencolek pinang ke kapur terlalu banyak sehingga saya batuk-batuk. Lalu saya ludahkan yang tadi, kemudian belum kapok saya coba lagi yang kedua barulah mulai agak lumayan rasanya. Kami harus menunjukkan mulut merah sebelum akhirnya dibacakan doa yang kemungkinan isinya meminta ijin dan permohonan agar diberi keselamatan.

IMG_20170501_080121

Rumah adat

IMG_20170501_080341

Bapak adat dengan ikat kepala merah khas Seram, dipiring ada sirih, kapur dan pinang

Setelah upacara adat selesai, kami meminta bantuan Bapak Raja untuk memilihkan porter guna membantu pendakian kami. Akhirnya terpilihlah warga Piliana bernama Boce (semoga tidak salah tulis) yang masih muda dan ramah untuk memandu kami.

09.00 – 11.30 : Desa Piliana (411 MDPL) – Pos Yamhitala (524 MDPL)

Perjalanan dimulai dari jalan cor Piliana ke arah sekolah kemudian naik kearah kebun. Karena dimulai dari sekitar 400 MDPL maka saat itu hawanya sangat panas, rupanya sepanjang perjalanan temperatur tidak semakin turun tapi tetap panas :p. Perjalanan cenderung naik sampai ketinggian 700 MDPL kemudian turun ke Sungai Yahe yang sangat jernih. Lalu tak lama lintas sungai Yahimtala baru sampai Pos 1 Yamhitala. Disini ada bangunan shelter yang cukup melindungi dari panas namun sayang bagian bawah kayu sudah rontok.

IMG_20170501_105747

Melintasi Sungai Yahe

IMG_20170501_112537

Pos 1 Yamhitala

11.45-15.00 : Pos Yamhitala (524 MDPL) – Pos Aimoto (1172 MDPL)

Perjalanan dari Yamhitala ke Aimoto diawali dengan tanjakan melipir tebing batu kemudian cenderung menanjak meski tidak terlalu terjal. Kemudian ditebing Lukuamano ada seperti batu tebing yang bisa buat istirahat sebentar. Sebelum sampai di Pos 2 Aimoto ada sungai yang merupakan sumber air minum yang jernih dan saya langsung minum.

IMG_20170501_141320

Lukuamano

IMG_20170501_151157

Daun gatal yang menurut Boce sebagai obat capai dan pegal

IMG_20170501_152437

Sungai di Aimoto

IMG_20170501_152839

Shelter Pos 2 Aimoto, kondisi cukup naik dengan adanya kamar yang bisa dipakai. Nampak Kang Maman sedang main dengan kompor multi fuelnya

Selasa, 2 Mei 2017

06.45-10.50 : Pos Aimoto (1172 MDPL) – Highcamp (1918 MDPL)

Mulai dari Aimoto cenderung turun kearah lembah, dikarenakan sehari sebelumnya hujan maka jalur ini jadi cenderung becek. Setelah lembahan ini selesai maka mulailah naik ke punggungan yang tanjakannya lumayan terjal. Kemudian kami didataran yang cukup kecil yang disebut Aiulunasalai pukul 07.30. Setelah Aiulanasalai, tanjakan kemudian masih makin terjal sampai ke puncak Teleuna. Kami sampai Teleuna pukul 09.10, ambil nafas sebentar lalu berangkat lagi. Mulai dari Teleuna, hutan mulai berubah jadi hutan lumut dan masuk ke punggungan. Setelah berjalan sejam lebih kami sampai di Highcamp, di Highcamp terdapat sebuah shelter yang cukup baik namun hawanya cukup lembab. Ketika kami cek genangan air yang ada disitu diameter airnya hanya 50 centimeter dengan warna cokelat. Disamping genangan tadi ada bekas satu genangan lagi tapi sudah kering. Agaknya saya sendiri kurang nafsu kalau disuruh minum air itu :p.

IMG_20170502_073520

Dataran Aiulanusalai

IMG_20170502_080538

Ngaso dulu

IMG_20170502_091130

Puncak Teleuna

IMG_20170502_092619

Kantung Semar

IMG_20170502_092728

Tebalnya lumut sepanjang Teleuna-Highcamp

IMG_20170502_105508

Shelter Highcamp

IMG_20170502_111555

Genangan di Highcamp

11.30-13.45 : Highcamp (1918 MDPL) – Pos Isilali (2162 MDPL)

Setelah isitirahat sebentar, kami lanjutkan perjalanan menuju puncak Manukupa. Tanjakan menuju puncak Manukupa cukup lumayan terjal karena naik dari 1918 MDPL ke 2281 MDPL. Sebelum puncak Manukupa, jalur berubah dari hutan lumut jadi bebatuan cadas. Kebetulan dari puncak Manukupa kami tidak dapat pemandangan karena mulai tertutup kabut. Setelah puncak Manukupa, kami turun ke lembahan yang disitu terdapat Pos Isilali. Di Isilali terdapat genangan juga dan shelter yang menurut saya kondisinya lebih baik daripada Highcamp. Untuk genangan saya tidak cek secara langsung karena sudah mulai malas.

IMG_20170502_130413

Mulai berubah jadi jalur batu tajam

IMG_20170502_131124

Penanda puncak Manukupa

IMG_20170502_131637

Turun dari Puncak Manukupa kearah Isilali (lembahan)

IMG_20170502_134024

Plang Isilali

IMG_20170502_134052

Shelter Pos Isilali

14.00-17.30 : Pos Isilali (2162 MDPL) – Nasapeha (2573 MDPL)

Setelah isitirahat sebentar, kami lanjutkan perjalanan. Selepas pos Isilali hutan masih lebat karena lembahan. Kemudian mulai naik ke arah punggungan Gunung Bintang. Nah sesampai punggungan ini mulailah banyak batu tajam, maka berhati-hatilah. Disini jalurnya naik turun sampai beberapa kali (hal ini membuat saya bosan juga). Kondisi ketika itu berkabut jadi tidak terlalu banyak yang saya lihat, tapi ada sisi positifnya yaitu karena punggungan itu terbuka maka tidak terlalu panas. Sebelum puncak Gunung Bintang, hujan mulai mengguyur. Jalur batu jadi mulai licin dan saya sempatkan diri untuk minum air hujan karena air genangan kurang membuat saya nafsu untuk minum. Sepanjang tanjakan menuju puncak Bintang yang membuat saya kian “desperado” karena sudah telalu lama jalan kaki dan selain itu faktor hujan dan suara geluduk yang cukup berbahaya apabila petir muncul ketika kami sampai Puncak Bintang. Sekitar pukul 16 kami sampai di puncak Bintang, tapi karena malas nanjak sampai puncaknya dan ketika itu mulai muncul petir kamipun melipir puncakan itu untuk turun kearah punggungan arah Nasapeha. Jalur melipir ini berisi banyak pecahan batu tajam tadi, agak riskan kalau sampai tergelincir disini. Setelah menuruni Puncak Bintang, kami masuk hutan lumut lagi, sekitar 1 jam perjalanan sebelum sampai Nasapeha yang ketika itu kondisinya hujan dan jalur becek luar biasa.

Disini kami dirikan tenda dan mulai istirahat guna besok untuk “summit attack”

IMG_20170502_142953

Naik turun terus

IMG_20170502_142957

Pemandangan arah sebelah

Rabu, 3 Mei 2017

05.20-07.20 : Nasapeha (2573 MDPL) – Puncak Binaiya (3027 MDPL)

Pagi itu saya kelaparan, sekitar pukul 02 saya sudah bangun lalu masak mie. Di Nasapeha terdapat genangan yang cukup besar, meski warnanya cokelat, saya coba filter pakai filter air keran. Cukup lumayan juga masak mie instan dengan air genangan, rasa tanah yang ada pada air genangan tadi lumayan tertutupi oleh bumbu mie. Sekitar pukul 05.20 kami berangkat naik kepuncak, jalur ke puncak lumayan terjal. Ketika matahari mulai muncul, terlihatlah sekitaran sisi selatan pulau Seram kearah Gunung Murkele dan lebih jauh pesisiran Tehoru dengan jembatan Sungai Kawanua. Perjalanan kepuncak ini cukup panjang naik-turun terus sampai beberapa kali sebelum sampai ke Puncak. Disini vegetasi mulai terbuka dengan banyak lumut, pakis raja, anggrek, susuh angin dan cantigi (itu yang bisa saya identifikasi). Sebelum puncak kami temui 2 genangan dengan air yang cukup jernih diantara lumut yang laiknya karpet. Dan sebelum puncak persis terdapat camp Wayfuku (2969 MDPL) yang datar dan dapat menampung 10 tenda kira-kira. Ketika kami sampai Wayfuku, kebetulan waktu pagi itu ada air genangan yang lebih besar dan jernih. Tetapi menurut informasi, air genangan di Wayfuku ini sering kering kalau sudah seharian panas.

IMG_20170503_055355

Matahari mulai terbit

IMG_20170503_060435

Siksaan belum berakhir

IMG_20170503_060546

Mau coba rasanya kalau batu ini menggores kulit? 😀

IMG_20170503_062217

Tehoru

IMG_20170503_070051

Genangan ada 2 sebelum puncak Binaiaya, cukup jernih dan saya masih ikhlas minum langsung yang ini

IMG_20170503_070826

Melipir lagi

IMG_20170503_071717

Wayfuku (2969 MDPL), disini bisa nenda dan ada genangan air (mudah kering kalau seharian panas)

IMG_20170503_072015

Pakis raja

IMG_20170503_064354

Tinggi juga nih pakis

IMG_20170503_074218

Puncak

IMG_20170503_074910

😀

08.15-10.00 : Puncak Binaiya (3027 MDPL) – Nasapeha (2573 MDPL)

Selepas berfoto ria dan menikmati puncak, kami langsung turun karena berencana mulai nyicil turun gunung. Kami tiba di Nasapeha jam 10.00 karena jalur naik dan turun agaknya sama saja (alasan sih sebetulnya karena kebanyakan foto :p). Sebelum turun kalau sekiranya air di Wayfuku masih ada, sebaiknya ambil air minum disini. Sesampai di Nasapeha kami persiapkan makanan dan packing.  Air genangan di Nasapeha pagi itu mulai susut dibanding kemarin dan airnya makin gelap. Ya karena itu gunakan perasa tambahan semacam nutrisari atau susu cokelat untuk menutupi aroma tanah apabila dibuat air minum.

12.30-14.30 : Nasapeha (2573 MDPL) – Pos Isilali (2162 MDPL)

Perjalanan dari Nasapeha ke arah Puncak Bintang nampaknya terasa lebih enteng dibanding kemarin, mungkin karena kali ini sudah makan banyak 😀 dan tentunya tidak hujan. Sesampai di puncak Bintang, kondisi kembali berkabut. Kami lanjutkan turun untuk sampai paling tidak Isilali baru kemi mengambil keputusan apakah lanjut ke Highcamp atau tetap di Isilali.

IMG_20170503_094205

Genangan di Nasapeha

IMG_20170503_094232

Cemilan nikmat

IMG_20170503_125038

Menuju puncak Bintang

15.00-16.30 : Pos Isilali (2162 MDPL) – Highcamp (1918 MDPL)

Setiba di Pos Isilali, kami memutuskan untuk lanjut ke Highcamp karena disara cuaca masih oke untuk jalan lagi. Kami kemudian mulai menapaki puncak Manukupa yang cukup lumayan menguras tenaga yang kemudian baru turunan terjal sampai ke Highcamp. Setibanya di Highcamp kami langsung gelar plastik sampah lalu masak. Entah kenapa sore itu hawa di Highcamp agak aneh, sampai ketika pintu shelter Highcamp yang sudah saya tutup terbuka sendiri yang membuat salah satu dari kami merasa “parno” :p. Ya karena daripada takut sebaiknya kami berpikir positif saja. Sepanjang malam itu rupanya kami tidak bisa tidur (kecuali Boce). Saya terbangun terus dan ketika terdengar hujan sekitar pukul 12 malam, saya berusaha menandon air hujan karena saya lebih memilih minum air hujan daripada air genangan Highcamp :D. Setelah puas menandon air, sekitar jam 02 saya mulai bisa tidur pulas (entah kenapa).

Kamis, 4 Mei 2017

06.20-09.00 : Highcamp (1918 MDPL) – Pos Aimoto (1172 MDPL)

Kami mulai masak pagi itu untuk mempersiapkan perjalanan panjang menuju Piliana. Kami berusaha mulai sepagi mungkin agar tidak terlalu malam sampai Piliana. Setelah masak, rupanya hujan turun kembali. Dalam hati saya, pasti jalur turun akan sangat licin -__-. Ternyata hujan yang saya perkirakan deras rupanya tidak demikian. Perjalanan turun ini licin, saya sendiri sampai beberapa kali terpeleset (jadi hati-hatilah). Kami sampai di Teleuna pukul 07.20, ambil nafas sebentar lalu lanjut lagi turun. Kami kemudian tiba di Aiulunasalai pukul 08.30. Disini kami bertemu rombongan John dari Ambon yang mengantar tamu dari Malaysia dan ditemani 2 orang porter dari Piliana. Tak lama, kami berjalan kembali dan sampailah di Aimoto untuk masak besar karena kami berupaya sedia nasi agar tidak kelaparan nanti dijalan. Disini saya sempatkan mencuci sepatu dan utamanya kaos kaki yang sudah bau busuk T_T

IMG_20170504_094200

Kembali ke Aimoto, Boce jagoan kami dari Piliana

IMG_20170504_094203

Jemuran :v

10.50-15.30 : Pos Aimoto (1172 MDPL) – Piliana (411 MDPL)

Perjalanan turun relatif lancar (entah karena sudah kenyang atau bukan?), perjalanan relatif lancar sampai kami tiba di Yamhitala pukul 12.40. Di Sungai Yamhitala saya sempatkan untuk memasukkan kaki ke sungai sekalian untuk menyegarkan kaki. Kemudian saya lakukan hal serupa di Sungai Yahe. Selepas Sungai Yahe, tanjakan menuju ketinggian sekitar 700 MDPL ini yang membuat saya cukup “desperado” dikarenakan hawa yang cukup panas sehingga keringat mengucur deras seperti disauna -_-. Setelah puncakan 700 MDPL, jalan terus turun dan paling membosankan ketika hutan sudah selesai dan masuk kebun sagu. Rasanya sudah ingin saja lari kencang untuk sampai Piliana dan makan durian :v. Akhirnya kami sampai di Piliana pukul 15.30 dalam kondisi dekil dan banyak lumpur. Saya sempatkan isitirahat sambil nyemil durian yang disuguhkan dan manggis oleh-oleh dari Bapak Raja :D. Kami kemudian mengontak Pak Moge agar kami dijemput keesokan harinya. Kami sempatkan semalam tidur lagi di rumah Bapak Raja.

IMG_20170504_124319

Foto bareng dulu di Yamhitala

IMG_20170504_132242

Judulnya : mencemari sungai pakai kaki bau :v

IMG_20170504_153451

Sampai juga di Piliana 😀

Informasi tambahan:

Saran:

  • Pendakian terbaik adalah ketika musim kemarau yang bulannya malah terbalik dengan Jawa, bulan januari-februari adalah yang terbaik
  • Berhati-hatilah karena batuan tajam mulai dari Manukupa sampai puncak dapat menciderai tangan dan kaki, bantuan gaiter ataupun sarung tangan sangat membantumencegah goresan dari batu
  • Di musim hujan (Mei-September) jalur jadi becek dan licin, persiapkan peralatan tempur Anda

Unduh Peta pendakian dalam bentuk PDF

Ilustrasi Pulau Ambon-Pulau Seram

Syarat SIMAKSI:

  • Surat keterangan sehat paling tidak H-3 sebelum pendakian
  • Bawa meterai 6000 sejumlah 4 lembar
  • Scan KTP

Silakan kontak Pak William untuk informasi lebih lengkap 🙂

Kontak:

  • Pak William BTN Manusela 0822 3835 8198, petugas Taman Nasional yang sangat resourceful dan membantu kami untuk informasi dan pengurusan semua dokumen administrasi
  • Pak Moge (carter mobil arah Piliana) 0813 4343 3835, supir mobil keren yang bisa antar kami sampai Desa Adat Piliana 😀
  • Bang Ipul KOMPAS 0853 4463 8623, silakan kontak apabila butuh guide dan tempat berteduh sementara di Masohi. Mereka akan dengan senang hati membantu.

Informasi biaya:

  • Tiket pesawat Lion Air CGK-AMQ 1.196rb
  • Angkot Hatu-Passo 10rb
  • Angkot Passo-Tulehu 10rb
  • Kapal cepat Cantika (Tulehu-Amahai) 115rb
  • Angkot Amahai-Masohi 10rb
  • SIMAKSI 5 hari 75rb/orang
  • Mobil Masohi-Piliana 800rb dibagi 3
  • Porter dari Piliana 150rb/hari
  • Sumbangan untuk kas desa ….
  • Upacara adat ….

 

 

Create a free website or blog at WordPress.com.