root@fandigunawan

May 21, 2017

Kenangan sepanjang Gunung Binaiya, Sawai dan Banda 29 April – 13 Mei 2017 (bag. 2)

Filed under: Pendakian, Tulisan — Tags: , , , , , — fandigunawan @ 6:52 am

Tulisan ini kelanjutan dari bagian 1.

Jumat, 5 Mei 2017

Setelah turun gunung pada hari Kamis, 4 Mei 2017 kamipun kembali menghubungi Pak Moge agar menjemput kami ke Piliana. Pak Moge berangkat dari Masohi pukul 05 dan sampai di Hatu (daerah dibawah Piliana) pukul 07 tetapi harus menunggu tambahan orang dikarenakan kondisi mobil yang kosong yang tidak memungkinkan untuk menghadapi jalur kurang bagus dan tanjakan menuju Piliana. Sekitar pukul 09, Pak Moge muncul dan kami bergegas bersiap untuk pulang tetapi kami tak lupa berpamitan dengan keluarga Bapak Raja atas bantuannya selama ini. Setelah pamitan, kami mampir ke obyek wisata baru (karena baru renovasi) yaitu “kali jodoh” dengan nama asli Ninipala. Kali jodoh ini merupakan sumber air alami yang berwarna biru dengan 2 pohon ditengahnya yang konon barangsiapa mandi disitu akan mudah mendapat jodoh. Perjalanan menuju kali jodoh tidak jauh dari Piliana dan lokasinya di pinggir jalan. Ada sekitar 50 meter jalan turun dari jalan aspal utama untuk sampai ke kali jodoh tersebut.

Mobil Pak Moge ketika sampai Piliana

Gelembung air yang dari mata air Ninipala “kali jodoh”

Warna air “kali jodoh”

Warna air

Untuk tiket masuk ketika kami ke kali jodoh adalah tidak ada, mungkin dimasa depan akan ada retribusi untuk masuk obyek wisata ini.

Kami sampai di Masohi pukul 12.30, kami langsung ke Balai TN Manusela guna memberi kabar sekaligus berpamitan karena Kang Maman akan langsung kembali ke Jakarta sedangkan saya sendiri masih galau mau kemana. Di balai saya dapat informasi dari Bapak Sugeng untuk sebaiknya ke Sawai saja karena tiket Pelni KM Nggapulu masih hari senin dini hari dan berangkat dari Pelabuhan Ambon. Sekitar pukul 15 saya naik “otto avanza” dari depan Pasar Masohi untuk ke arah Sawai, Seram Utara. Mobil otto (sebutan untuk mobil/angkot) ini setiap hari berangkat dari Sawai pukul 08 (supaya pas dengan jadwal menyeberang Amahai-Tulehu yang sore) dan kembali pukul 15 dari Masohi. Perjalanan menuju sawai memakan waktu sekitar 3,5 jam. Perjalanan awalnya melintasi dataran sekitar 1 jam sebelum menanjak kearah hutan belantara. Disini sebagian jalan merupakan kawasan hutan TN Manusela. Pemandangan yang sangat apik terpampang jelas sepanjang jalan ini. Sebelum “tanjakan SS” kami berhenti sejenak untuk istirahat sekitar 10 menit. Tanjakan SS ini sangat terkenal karena cukup curam. Meski jalan relatif bagus beraspal, beberapa titik rusak parah karena jalanan ambles. Supir otto kami rupanya cukup mahir menghajar jalanan rusak ini. Ketika kami sampai di Sawai, atas rekomendasi supir otto saya menginap di penginapan apung Oanain. Tarif disini semalam 330 ribu sudah termasuk makan 3 kali dimana ini lebih murah dibanding di Ora resort.

Masih kebagian matahari tenggelam meski tinggal ekstraknya :v

Orang bijak taat bayar pajak katanya :p

Salah satu penginapan apung

Bangunan utama resort Oanain

Pemandangan diberanda

Pemandangan kearah tebing

Malam itu saya bertanya ada apa saja sih di Sawai, kebetulan penjaga resort juga orang Jawa Timur. Dia memberitahu biasanya ada paket sewa speedboat untuk 3 lokasi yaitu tebing, Ora dan Air Belanda seharga 500 ribu. Dikarenakan kalau sendiri bayar 500 ribu cukup berat, akhirnya dapat tambahan pasukan dari rombongan lain sehingga lebih enteng untuk patungan. Perjalanan untuk menggunakan speedboat dijadwalkan esoknya pukul 08.30. Saya sempatkan untuk bertanya adakah lokasi nenda yang mungkin dituju dan akhirnya disampaikan agar nenda saja di Pulau Raja. Di pulau itu katanya ada sinyal dan terkadang ada penduduknya. Jadi diputuskan setelah ke tebing, Ora, Air Belanda nanti saya akan diantar ke Pulau Raja.

Sabtu, 6 Mei 2017

Selepas sarapan pagi sekitar pukul 08.30 kami bersiap menggunakan speed boat. Kunjungan akan berurut dari tebing, Ora, Air Belanda lalu Pulau Raja. Untuk masuk ke pantai Ora kami diharuskan bayar tiket masuk 25rb T_T. Yang menarik dari resort ini adalah harganya yang wah itupun sulit dibooking meski sudah jauh-jauh hari. Harga ruangan paling besar di resort apung adalah 3.5jt untuk informasi lebih jelas silakan cek : disini

Daftar harga

Biar gambar yang berbicara untuk perjalanan itu.

Tebing

Tempat istirahat dan foto di tebing

Gua di tebing

Resort Ora

Resort Ora

Mengenai Air Belanda saya juga ingin tahu kenapa dinamakan demikian, Air Belanda itu dulu tempat bertemunya air tawar dari sungai kemudian bertemu air laut. Diperbatasan kedua air itu air terasa lebih dingin. Mengenai nama Belanda adalah karena dulu disitu ada pekuburan Belanda yang beberapa sudah hilang karena kena abrasi.

Kuburan Belanda

Pantai di Air Belanda

Warung di Air Belanda

Pemandangan kearah Saleman

Selepas dari Air Belanda, kami menuju Pulau Raja. Tapi rupanya ini salah, saya diturunkan di Pulau Sawai, sedang Pulau Raja ada diseberangnya.

Pantai Pulau Sawai

Pesan vandalisme dikursi

Pasang tarp dulu

Tak lama setelah pasang tarp, kemudian adalah dua anak yang menggunakan perahu main ke Pulau Sawai ini. Saya tanya apakah mereka nggak sekolah, tapi mereka bilang libur :p. Akhirnya sebelum mereka pulang saya kasih jajan buat dibawa pulang, tak lupa dikasih pesan dibagi dua ya jangan sampai berantem. Tak lama mereka kembali lagi, mereka bilang sebaiknya pindah ke Pulau Raja saja. Saya kurang paham kenapa awalnya? tapi ya sudah ikut saja. Awalnya waktu pindah saya ikut sampan kecil mereka, tapi apa boleh buat baru jalan beberapa meter sampan tadi oleng dan saya nyemplung air -__-. Karena itu akhirnya mereka ambil lagi kapal yang lebih besar untuk jemput saya. Rupanya di Pulau Raja ini dihuni dan dikelola oleh keluarga Mukaddar sejak jaman baheula. Mereka disini sedang menyelesaikan penginapan apung. Disini saya dijamu makan kelapa muda, sepertinya saya makan sekitar 4-5 butir :D. Ibu-ibunya juga membuat ikan asap untuk dimakan. Sering ada tamu yang berkunjung juga minta dimasakkan masakan khas mereka yaitu ikan asar (asap) dan colo-colo. Rupanya alasan saya diminta pindah dari Pulau Sawai karena itu pulau umum yang siapapun bisa kesana, kalau ramean katanya sih nggak apa-apa. Sedangkan Pulau Raja ini dikelola oleh keluarga Mukaddar secara turun-temurun.

Keluarga Mukaddar

Pemandangan pagi dari Pulau Raja

Pemandangan pagi dari Pulau Raja

Keunggulan Pulau Raja adalah karena didua sisinya bisa dapat matahari terbit dan tenggelam (harus pindah sisi pulau) sementara di Ora atau Sawai matahari pagi terhalang dinding tebing. Selain itu karena keluarga Mukaddar mempunyai kebun kelapa yang sangat saya rekomendasikan untuk mencoba hasil kelapa mudanya :D.

Resort Oanain lagi

Minggu, 7 Mei 2017

Sekitar pukul 06.30 speed boat menjemput untuk ke Resort Oanain lagi dan pukul 0830 berangkat ke Masohi. Selamat tinggal Sawai semoga bisa berkunjung lagi utamanya bisa silaturahmi ke Keluarga Mukaddar lagi.

Informasi:

Biaya

  • Mobil otto Avanza 100rb, Sawai-Masohi jam 08 dan Masohi-Sawi jam 15
  • Menginap di Oanain Resort 330rb sudah termasuk makan 3 kali
  • Speedboat tebing, Ora, Air Belanda 500rb (silakan patungan)
  • Speedboat Pulau Raja-Oanain 200rb
  • Tiket masuk ke Ora 25rb

Kontak informasi:

  • Resort Oanain Munina Sawai Bapak Bahtiar 0812 5282 5887, 0812 3376 2778
  • Keluarga Mukaddar Pulau Raja : Abdurahman Mukaddar 0852 4300 9548, Talib 0813 4434 8456 silakan kontak mereka mungkin nanti ketika penginapan apung Pulau Raja sudah jadi. Kalaupun belum, camping di Pulau Raja juga asik 😀

 

Advertisements

Create a free website or blog at WordPress.com.