root@fandigunawan

May 15, 2007

Untuk direnungkan [1]

Filed under: Misc — Tags: , , — fandigunawan @ 8:52 am

Ini dapat contekan dari milis alumnismada🙂

Rabu, 13 September 2006 06:18:38
Catatan Perjalanan
Dongeng dari Jepang
Oleh Yuli Setyo Indartono

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu
kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti
sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian
di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada
nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak
dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan
fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di
Jepang.

Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira
situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada “semut” yang
diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor
senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut
malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam “semut-semut” yang
sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan
mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus.
Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para
pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi,
dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang
kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu
ruangan yang sama – tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya
bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang
bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari
pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari
dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama
seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola
serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan
perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang,
bahwa gaji mereka – para “semut” tersebut – tidak bisa dikatakan
berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di
internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara;
kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan
profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas
Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan
saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan
sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama
anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal,
pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau
tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari “RT, RW, Kelurahan”
dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan
kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan
meningkat, sekaligus sangat efisien.

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar
berbahasa Jepang, saya mendapatkan “fasilitas” diantar kesana-kemari
pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya
melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior
saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di
Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain
hari saya membaca prinsip “the biggest (service) for the small” yang
kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk
orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo “kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah” tidak saya jumpai di
Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya
diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan
bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang
sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah
seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat
tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak
tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut
akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen
pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana.
Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah
yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami
sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga
10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami
bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas – sebuah
kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya
telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan
kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula
berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya
sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu,
istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk
meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam
harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas
lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya
bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun
dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut.
Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru
tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum,
menyangkut kehormatan di negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di
Jepang akan sebuah paradigma “Bila anda datang ke kantor pada pukul
09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00
(jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda
akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja”. Saya
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda
melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di
kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya
jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar
pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja –
versi Jepang.

Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah
mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada
permukaan beberapa buah-buahan – sesuai dengan harga murah yang
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut,
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi
sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali
memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami
mengatakan “daijobu” (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya
dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan
kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap
jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka
mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan
dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar,
bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu
menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh – sesuai dengan yang
tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen
(mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada “pemaksaan” untuk menerima
permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan
praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem
perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang
dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang.
Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat “sepele”; hal
ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual- beli.

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan
karena “keriangan” anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau
buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur
dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali
melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut,
petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang
tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan
pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini
adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah
dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua
ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket
menyahut “daijobu yo” (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk
sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan
sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada
anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang
yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah
memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah
petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka
berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar;
justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan
kebutuhan, dan mereka selalu bergerak – seperti semut. Di sebuah toko
elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer
yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas
yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.

Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe
demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah
dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan
metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi)
yang gagah mengendarai motor besar bak Chip – ini jumlahnya sedikit.
Namun polisi kota besar seukuran Kobe – salah satu kota metropolis di
Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di
jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila
saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa
benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe
dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang
tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang – mirip
dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau
mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada
diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara
dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari,
kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda.
Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih
pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) –
kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot
dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata
melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu
melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang
akan bekerja.

Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini
hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah
negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni.
Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah
Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah
pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk
terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di
mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni,
dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan
kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah
anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang.
Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada
situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas
kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja.
Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas,
sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki
diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita
keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang
senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai
kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di
depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya
tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater
ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar
di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan
dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus,
kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di
Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan
sendiri – kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak
memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta
antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang.
Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas
kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta
dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak
menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi
terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik
di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara
karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat “tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan”
mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang
di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda
akan selamat sampai ke seberang – tanpa perlu menengok kiri dan
kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia,
kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota
ini.

Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih
mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya
belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan
(gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat
perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa
pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional.
Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari
biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya
akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun
menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan
mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih
kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang
dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos
berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya
bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke
rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang
menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa
pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang
berbeda kepada para pemegang kartu asuransi – apalagi untuk kami yang
mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter
dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta
prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan
yang sebenar-benarnya.

Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah
sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah
sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi
pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan
bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari
dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan
keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa
melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari
Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru
datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.

Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and
Technology, Kobe University, Japan. Peneliti Istecs dan Ketua
Teknologi Energi INDENI http://www.indeni.org. E-mail: indartono@yahoo.com

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: